DEFINISI
KONSELING KELUARGA BESERTA VIDEO
Konseling adalah
bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang
konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki
problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar
klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya
sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan
mempelajari saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari
keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara
orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki
atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik
anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
Konseling keluarga pada
dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling
keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi
keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton
konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non
keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien
adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan
keluarga inti atau pasangan ( Capuzzi, 1991 )
Konseling keluarga
memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang
tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya
maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang
anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang
lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak
agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui
perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi
klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga.
Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa
yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.
Pada masa lalu, menurut
Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal,
yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti
gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami
gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki
kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota
keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah.
Anak di dalam suatu
keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak
berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya
diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua.
Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan
pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika
mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling
keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang
mengalami gangguan.
Hal kedua berhubungan
dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam
mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga
tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi
perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya
merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan
untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan
konseling.
Perkembangan belakangan
konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain
yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang
harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya,
cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik
anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga,
masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga
dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antar anggota
keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan
anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi.
Berbagai
permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui
konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk mengubah
system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu
mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.
Sebagaimana di
kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki
keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan
dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud
melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya:
1. Tidak
semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka
menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alasan kesibukan,
dan sebagainya; dan
2. Ada
anggota keluarga yang merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya
secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan
keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain.
B.
Pendekatan
Konseling Keluarga
Untuk memahami mengapa
suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga
tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan
konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan
berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural.
1. Pendekatan
Sistem Keluarga
Murray Bowen merupakan
peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga
itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family).
Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya
dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.
Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang
dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat
anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota
keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang
mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak
menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri
dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan
rasionalitasnya bukan emosionalnya.
2. Pendekatan
Conjoint
Sedangkan menurut Sarti
(1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga
diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting
bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem
yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di
keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat
dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat
dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
3. Pendekatan
Struktural
Minuchin (1974)
beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan
pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur
dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak
jelas.
Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun
kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota
keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki
transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan
memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi,
apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan
sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga
itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.
C.
Tahapan
Konselor Keluarga
Tahapan konseling
keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba
menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi.
Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang
disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut.
1. Orangtua
membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini
dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2. Setelah
orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor
menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan
orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang
bagaimana hal inidikerjakan. Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh
yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat
penting menunjukan kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan
menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan anaknya.
3. Selanjutnya
orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka
pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member
koreksi ika dibutuhkan.
4. Setelah
terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat.
Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di
rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati
kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua
dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut,
terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua,
selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya
mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.
D.
Peran
Konselor
Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling
keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya
sebagai berikut.
1. Konselor
berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara
jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
2. Konselor
menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3. Berusaha
menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
4. Membelajarkan
klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan
self-control.
5. Konselor
menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan
menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.
6. Konselor
menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon
anggota keluarga.
video konseling keluarga
semoga bermanfaat.!!!

11 komentar:
good job mann......
bagus om.......
bagus buat nambah wawasan (y)
bermanfaat (y)
Thanks infonya
OK bingiiittt videonya.... menarik euuyyy,,, (y)
apik
Mantap gan
ikut share bang.
shippp um peng....LANJUTKAN
baguss,, vidio yang lainnya donk
Posting Komentar